Berbagi Rasa

S egala ego dan tuntutan hidup membawa kita kedalam situasi yang seringkali tidak diinginkan. Yang seringkali menyudutkan, membuat kita mengerahkan kemampuan secara membabi-buta. Tuntutan untuk lahir normal, bersekolah sekaligus mendapat nilai memuaskan, berperilaku santun, menjaga norma, mendapat pekerjaan bagus, menghasilkan gaji tinggi, up-date terhadap tren terbaru, punya keluarga normal bahagia dan seterusnya.

I ngin diakui.

K ita berusaha mati-matian terlihat indah di mata orang lain.

D an saya mulai bosan melihat itu. Melihat saya dan orang lain merubah dirinya menjadi mesin penggilas jaman.

B eberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman sejawat punya kesempatan dijamu oleh sebuah institusi independen non-pemerintah. Saya tidak berani menyebut nama institusi tersebut disini tanpa ijin, walau pasti mereka tidak berkeberatan untuk itu. Suatu klinik sederhana yang berada di tengah hiruk pikuk pasar sekitar Jatinegara dengan lalulintas masyarakat marginal. Institusi ini memberi mulai dari layanan umum dan beberapa layanan khusus.

Y ang menarik untuk saya adalah, pasien tetap beberapa layanan khusus di institusi ini adalah golongan yang mungkin untuk sebagian masyarakat dianggap tidak normal. Sebut saja diantaranya waria, WPS (Wanita Penjaja Seks), PPS (Pria Penjaja Seks), klien (pelanggan WPS/PPS), homoseksual (guy atau lesbian) atau MSM (Man having Sex with Man), IDU (Injecting Drug User) dan warga binaan (narapidana). Ada yang aneh? Mari kita anggap ini sebagai sesuatu yang unik, daripada aneh. Dan mereka benar-benar ada di lingkungan kita, dengan jumlah yang semakin meningkat.

L ebih jauh, layanan khusus di klinik ini berhubungan dengan orientasi seksual berbasis perspektif kesetaraan gender. Berbagai orientasi seksual seperti :

1. Heteroseksual

Hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dengan aktivitas seksual dapat berupa genito-genita (penis-vagina), oral seks dan anal seks.

2. Homoseksual

Hubungan antara sesama laki-laki, atau sesama perempuan. Dengan aktivitas seksual dapat berupa oral seks, anal seks dan riming (menjilati sekitar anus)

3. Biseksual

Hubungan antara seorang laki-laki dengan laki-laki dan perempuan, atau sebaliknya

4. Selibat

Seseorang yang memutuskan dirinya untuk tidak berhubungan seksual, biasanya berhubungan dengan agama.

D i klinik ini, semua orang diterima dan dilayani setara dengan tanpa melihat latar belakangan orientasi seksual mereka. Bahkan dalam mencatat identitas klinik ini hanya meminta nama panggilan, tanpa embel-embel KTP atau surat keterangan lainnya. Membangun rasa nyaman sekaligus kepercayaan.

L ayanan khusus berupa pemeriksaan dan pengobatan penyakit-penyakit Infeksi Menular Seksual, VCT (Voluntary Counseling Test; Konseling dan pemeriksaan HIV-AIDS), PAP-Smear, Vaginal Toilets (pembersihan vagina), dan konsultasi psikologi. Dengan rata-rata biaya Rp. 10.000,- saja termasuk konseling, obat dan kondom (bila diperlukan) sebanyak 9 buah. Selain layanan di klinik, seringkali tenaga medis klinik ini turun ke hotspot (daerah tempat para pasien berkumpul) disertai dengan banyak penyuluhan di berbagai lapisan masyarakat. Dan masih banyak program-program hebat lain dengan tujuan yang sama. Menginspirasi.

S ekali lagi saya diberi kesempatan untuk memiliki ilmu sekaligus rasa yang memberi semangat.

R asa takjub terhadap waria, yang sanggup jujur terhadap keadaan. Walaupun itu menentang nilai ideal masyarakat di negara timur ini. Bahkan mereka sanggup membangun dunia sendiri di sela tatapan tidak menyenangkan, cibiran dan bahkan ancaman secara fisik atau psikologis. Dan hebatnya mereka konsisten dengan itu. Mereka konsisten ditengah kesulitan membaur atau dikucilkan oleh masyarakat, bahkan keluarga mereka sendiri. Mereka konsisten hidup susah, mengingat sulitnya menembus barier dunia kerja formal.

R asa salut terhadap para penjaja seks, apapun tujuan mereka memilih profesi ini, yang mampu menekan ego serendah-rendahnya saat para klien menghargai mereka dengan sejumput materi. Saat mereka tidak punya pilihan selain diperlakukan rendah dan sewenang-wenang. Dan esoknya masih mau berdandan cantik demi memuaskan mereka yang sudah dan akan memperlakukan rendah dan sewenang-wenang.

T erimakasih .. sudah membuat saya mengerti bagaimana berbagi rasa.

WhoHoo .. I’ve Been Simpsonized

S ebenarnya sudah tau soal ini sejak lamaaaaa banget. Dan penasaran untuk mencobanya. Tapi karena sok sibuk, sayapun lantas lupa. Nah, waktu kemarin lagi asik nonton suatu acara talk show luar negeri, ternyata dibahas lagi. Wah, tidak menyia-nyiakan waktu akhirnya nekat me-simpson-kan wajah. Merubah wajah kita menjadi karakter kartun dalam serial The Simpson.

N arsis?

S elama itu bisa bikin kita senyum, kenapa tidak? 😉

*di convert dari poto polos tanpa kerudung* 😀

T api kok rasanya kurang mirip yah.. *masih sibuk utak atik karakter disini*. Hayoooo .. Siapa yang bisa bikin karakter paling mirip dengan aslinya?

The Silent Evidence

S aat darah, lebam dan bau busuk menyengat berbicara dalam sunyi ..

B ercerita tentang maut. Dan gelap abadi ..

S ebagai salah satu bidang spesialisasi Kedokteran, Ilmu Kedokteran Forensik banyak berperan dalam berbagai sisi kehidupan. Secara langsung berkutat dengan manusia, atau bagian tubuh yang diduga dari manusia. Menjadi petunjuk dan pengganti benda bukti pada kasus pidana adalah peran dari manifestasi usaha penelusuran kejadian tiap kasus, walau tidak hadir pada saat terjadinya kasus tersebut.

P ada korban hidup, kesaksian korban didukung dengan bukti fisik dapat disusun menjadi alur cerita kejadian tindak pidana yang terjadi. Tapi lain hal-nya pada korban tak bernyawa, hanya bukti fisik yang bisa menjadi saksi bisu terjadinya keadaan yang membuat korban kehilangan nyawanya. Bentuk dan kedalaman luka, dapat menunjukkan benda yang menyebabkan. Alur lecet menggambarkan arah benda terhadap tubuh, serta bentuk permukaannya. Lebam dan kaku mayat bersama-sama dapat memperkirakan waktu nyawa sang korban terpisah dari tubuhnya. Petunjuk lain, seperti panjang rambut, kuku, cairan tubuh, bahkan benda yang secara sengaja atau tidak ikut terbawa bersama sang korban, seperti batu, potongan logam atau potongan tanaman, saling menyumbang kemungkinan tentang kejadian meninggalnya korban.

L ebih jauh, pemeriksaan dalam pada korban tak bernyawa, menyangkut pemeriksaan organ-organ seluruh tubuh. Mulai dari otak, alat dan saluran pencernaan, bagian-bagian pendukung pernapasan, jantung, hati, ginjal, bahkan pembuluh darah. Bau, warna, bentuk, ukuran, berat, elastisitas, busa-gas-cairan penyerta menunjukkan tingkat abnormalitasnya. Selanjutnya pemeriksaan histologik secara mikroskopik dan kimiawi, melengkapi rangkaian pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya.

Tempat menimbang jenasah dengan brankar

Disini menimbang organ

My Baby Orchid

B eberapa minggu yang lalu, dapat tanda mata sebuah baby orchid dari seorang sahabat. Walaupun saya ndak punya jiwa “berkebun” tapi karena tergoda untuk memiliki pengalaman memelihara makhluk hidup selain hewan atau manusia lain, akhirnya nekat mengadopsi sang baby anggrek dari empunya. Pesan si empu, sang baby cukup disiram pagi dan sore hari, juga diletakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Tanpa pupuk, tanpa obat – obatan, tanpa mantra – matra khusus. Ok, sepertinya mudah.

B aby orchid-ku ini dari jenis anggrek merpati. Kata sang empu juga, jenis yang paling mudah diurus untuk level pemula seperti saya. Wah malah jadi grogi. Bagaimana andai baby orchid-ku ndak terurus dan mati, bisa – bisa nama baik sebagai pemula berkebun jadi tercoreng moreng. Walau terlihat mudah, ternyata merawat tanaman itu butuh tingkat sensitivitas yang tidak rendah. Terbukti pada akhir minggu pertama merawat baby orchid, saya lupa menyiramnya selama 1,5 har

i saja karena ditinggal mudik ke Jakarta, salah satu dahannya mengering dan gugur. Hiks. Sedih. Maaf ya sahabat.

L alu semenjak itu, setiap berencana mudik ke Jakarta, atau saat ada jadwal jaga saya selalu mengingatkan diri untuk menyiram dan menitipkan sang baby ke tetangga terdekat. Rasa tanggung jawab tumbuh begitu saja seiring dengan waktu. Cieh.

I ni gambar sang baby minggu pertama

S etelah baca sana – sini, tahulah saya bahwa sang baby punya nama latin Dendrobium crumenatum. Dan ternyata bahwa anggrek adalah tanaman yang identik dengan sifat kesabaran, keuletan, ketekunan, dan pantang menyerah. Wah beberapa hal tersebut sepertinya tidak seperti sifat – sifat saya. Jadi curiga dengan tujuan sang empu baby memberikan sang baby pada saya.

M engutip dari beberapa bacaan, anggrek merpati memiliki cukup banyak variasi dalam bentuk dan ukuran bunga. Warna khasnya yang putih bersih ditambah aroma harum semerbak merupakan kelebihan anggrek ini dibanding kerabatnya yang lain. Memiliki adaptasi yang sangat luas mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Saat musim berbunga tiba, seluruh kuntum umumnya akan mekar serentak. Hanya saja, lama mekarnya tidak lebih dari 1 hari. Jadi kepikiran untuk membuat tas khusus untuk membawa sang baby, agar saya tidak terlewat saatnya sang baby mekar nanti. Terinspirasi oleh mbak Paris Hilton yang selalu berpergian dengan menenteng tas untuk anjing nya. Kelebihan lain anggrek merpati adalah toleran terhadap kekeringan, kemampuan menghasilkan keiki (anakan) yang sangat tinggi, tingkat pertumbuhan akar dan tunas yang cepat, serta tahan terhadap berbagai rentang intensitas cahaya yang kuat. Sampai disini percaya diri saya tumbuh kembali. Bahwa nantinya saya akan berhasil membesarkan sang baby menjadi sang putri merpati yang cantik dan harum.

S eperti ini ..