Demam Pelangi

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada Yang kuasa

cinta kita di dunia selamanya ..

(Nidji, Laskar Pelangi)

S eperti yang lainnya, sayapun terjangkit demam pelangi. Mengggandrungi adegan demi adegan dalam film garapan para sineas muda berbakat. Mereka yang telah berhasil mengangkat suatu kisah nyata yang luar biasa, menjadi suguhan yang apik dan menggemaskan. Nikmat, mengenyangkan tanpa membuat ketagihan.

F ilm yang romantis untuk saya. Dimana saya bisa merasakan kehangatan persahabatan yang sederhana namun mendalam dan mengendap dalam setiap celah otak dan hati. Berhimpitan dengan perjuangan seuntai sahabat dalam mengais ilmu.

E ntah apa yang benar-benar dirasa oleh bang Ikal, jikalau saya boleh memanggilnya begitu. Setelah berhasil menuangkan cerita hidup dan kenangan yang telah lama menjadi bayang-bayangnya dalam tulisan dan film. Bukan suatu kebetulan sepertinya andai buku dan film karya bang Ikal laris manis di pasar Indonesia. Tulisan dalam bukunya yang sudah saya baca jauh sebelum film-nya akan dibuat, memang meninggalkan kesan mengharu biru, menyentuh sisi manusiawi. Yang saya ingat pertama saya mendengar bang Ikal ini berucap, adalah saya melihat sebuah pribadi yang apa-adanya. Saya terkesan dengan pemilihan kalimatnya yang singkat dan intonasi yang rendah. Selebihnya saya tidak akan berani menilai sosok bang Ikal seperti apa. Karena mendengarnya berkatapun hanya sekali itu. Buku dan film pun tak dinyana memiliki bagian-bagian pemanis penambah selera. Namun, sepenuhnya saya mendukung karya bang Ikal yang telah lahir dan mengharap beliau dapat selalu melakukan hal-hal hebat lainnya di masa yang akan datang. Aamiin.

. . .

Awan-awan kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah ingin menyentuh permukaan laut yang surut jauh, beratus-ratus hektare luasnya, hanya setinggi lutut, meninggalkan pohon-pohon kelapa yang membujur di sepanjang Pantai Tanjong Kelayang.

Aku tahu bahwa awan-awan kapas biru muda itu dapat menjadi penghibur bagi mataku, tapi dia tak kan pernah menjadi sahabat bagi jiwaku..karena sejak minggu lalu aku telah menjadi sekuntum daffodil yang gelisah, sejak kukenal sebuah kosa kata baru dalam hidupku : rindu

(Hirata, Andrea. Miang Sui-Laskar Pelangi)

. . .

“Tahukah kalian …,” katanya sambil memandang jauh. “Pelangi sebenarnya adalah sebuah lorong waktu”

Kami terdiam, suasana jadi bisu, terlena khayalan mahar

(Hirata, Andrea. Laskar Pelangi dan Orang-orang Sawang-Laskar Pelangi)

. . .

Ibunda guru,

Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.

Salamku, Lintang.

Bagai meteor pijar ia berkelana sendirian ke planet-planet pengetahuan, lalu kelipnya meredup dalam hitungan mundur dan hari ini ia padam, tepat empat bulan sebelum ia menyelesaikan SMP…

Hari ini, seekor tikus kecil mati di lumbung padi yang melimpah ruah.

(Hirata, Andrea. Elvis Has Left the Building-Laskar Pelangi)

. . .

Saat itu aku menyadari bahwa kami sesungguhnya adalah kumpulan persaudaraan cahaya dan api. Kami berjanji setia dibawah halilintar yang menyambar-nyambar dan angin topan yang menerbangkan gunung-gunung. Janji kami tertulis pada tujuh tingkatan langit, disaksikan naga-naga siluman yang menguasai Laut Cina Selatan. Kami adalah lapisan-lapisan pelangi terindah yang pernah diciptakan Tuhan.

(Hirata, Andrea. Elvis Has Left the Building-Laskar Pelangi)

. . .

Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang-kerang halus yang melekat satu sama lain dihantam deburan ombak ilmu.

(Hirata, Andrea. Laskar Pelangi)

Foto behind the scene lainnya.