Kering

Ketika sebuah keinginan sederhana tidak harus terpenuhi.

Ketika seonggok perasaan mulai membatu dan berdebu.

Mereka, dua bibit yang memutuskan bersatu, tumbuh bersama untuk menjadi satu pohon. Pohon yang sejalan dengan matahari terbit dan terbenam makin tumbuh menjulang. Bercabang cabang. Melahirkan pucuk-pucuk muda diujung rantingnya. Pucuk muda bergelar harapan.

Pada pucuk-pucuk muda itu mengalir segala kebaikan dan keinginan. Seumpama mimpi yang tertanam dalam-dalam. Mengakar dan mengikat kuat.

Kini..

Pohon bercabang itu makin renta. Rapuh dan limbung dimakan usia. Seakan hendak tumbang terbagi dua.

Pucuk-pucuk nya terlihat pucat. Kering berkerut-kerut.

Menanti jatuh ketanah. Menanti hancur.

889359

.. Ayah, Bunda. Maaf, pucuk itu belum mampu membahagiakan kalian.

Iklan

Aku Rindu

B unda ..

G enggam ini tak akan mampu melingkari seputaran penuh hidupmu.

T atap ini tak bisa memotret tiap kerut dahimu.. tiap lekuk bibirmu.

P undak ini tak sanggup terbagi beban hidupmu.

K aki ini pun tak mungkin menyandang alur lika-liku nasibmu.

A ku hanya punya cinta seluas dunia. Walau tak seluas yang kau punya.

T api ini sepenuhnya milikmu

..

B unda .. Aku rindu. Sangat.

Aargh..

23 Agustus – 22 September


Karakter Virgo
Tradisional


Rendah hati dan pemalu
Dapat dipercaya
Praktikal dan rajin
Pandai dan analitikal

Di sisi lain

Khawatir
Terlalu kritis
Perfeksionis

K hawatir, Terlalu kritis dan Perfeksionis? Apa karena sifat-sifat ini, saya merasa bermasalah menghadapi orang-orang egois, sok pintar dan sok berkuasa di sekeliling saya? Cuma bisa menyalahkan tanpa memberi solusi.

A rghh.. Andai saja saya tidak punya sopan santun.

Mudik Tahun Ini

S etiap lebaran, biasanya saya dan keluarga mudik ke kampung halaman Bapak di salah satu kota di daerah Jawa Tengah. Tentunya menjadi bagian dari berjuta-juta orang yang rela meluangkan waktu, energi dan materi demi menjaga tradisi yang telah terwarisi selama turun-menurun. Berangkat tiga atau empat hari sebelum Hari Raya Iedul Fitri, kami menghabiskan berpuluh-puluh jam dalam kendaraan, melakukan aktivitas harian dalam keterbatasan. Sahur dadakan dan menunda berbuka, menikmati perjalanan dengan terik matahari dan macet sepanjang berpuluh-puluh kilometer, menahan buang air, mencari mesjid yang nyaman untuk beribadah atau pom-bensin untuk sekedar membersihkan diri alakadarnya sambil beristirahat sejenak.

M engambil rute yang dianggap paling aman dan cepat ternyata tidak menjamin kenyamanan selama berkendara. Tidak jarang kami terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan, misalnya melalui jalan alternatif yang ternyata malah menyulitkan karena kondisi jalan-nya yang biasanya sempit, rusak atau berputar-putar tidak jelas tanpa petunjuk.

B erpuasa dalam perjalanan juga bukan satu pilihan yang menyenangkan, selain waktu terasa berjalan lebih lambat karena tidak banyak hal yang bisa dilakukan dalam kendaraan, kondisi iklim negara yg tropis ini juga menyumbang perasaan keberatan untuk berlama-lama berada di jalan. Belum lagi berpuluh bahkan ratusan restoran dengan tanpa bersalah me-mejeng menu andalannya. Atau penjual makanan pinggiran yang secara langsung menjajakan dagangannya.

K amipun harus rela berdesak-desakan dalam kendaraan, berbagi ruang dengan saudara atau kenalan orangtua yang kebetulan mudik searah dengan perjalanan kami, beserta barang-barang bawaan yang selalu saja terasa berlebih.

S aya selalu saja keberatan tiap tahunnya. Selalu enggan ber-packing kebutuhan mudik dan makin malas sampai hari keberangkatan tiba.

B apak sang kepala koordinator perjalanan mudik, selalu menyemangati kami. Tidak putusnya menertawakan keadaan kami dalam perjalanan mudik, sekedar menyulut letup letup semangat mudik.

“Nduk.. bule pasti pasti pada heran kalo liat kita di TV, melihat kita mengantri dan bersusah payah di jalan serentak untuk pulang kampung. Di luar negeri sana ndak ada tradisi mudik lho..”

“Nduk.. lihat itu yang mudik diatas mobil pickup, kasihan ya. Panas-panas, bertumpuk-tumpuk dengan barang dan penumpang lain. Kita ndak boleh kalah lho Nduk”

B iasanya saya tidak banyak berkomentar. Selain senyum kecut karena kelelahan atau sekedar bosan. Sesekali menimpali sekedarnya. Bunda pun tidak mau kalah, dengan selalu memenuhi kebutuhan makanan dan cemilan selama perjalanan dan melengkapi kebutuhan berlebaran lain.

S elain itu, hal yang paling tidak saya nikmati dalam perjalanan adalah saat Bapak dan Bunda berselisih tentang banyak hal, bahkan hal-hal sepele. Seringnya berkepanjangan dan membuat suasana menjadi tegang. Terasa seperti membawa granat dalam saku celana.

D ibalik itu semua, kebersamaan selalu menjadi bagian dalam perjalanan. Kami makan bersama, beribadah dan beristirahat bersama, bahkan buang air kecil bersama. Hal yang amat sangat jarang saya alami dalam keseharian. Biasanya kami terbenam dalam kesibukan masing-masing, setia pada jarak dan bangunan yang kami bangun diantara hati kami. Menghormati ketidak-harmonisan Bapak dan Bunda, menjadikannya kuil suci yang tidak berani kami sentuh.

T api semua hal itu tidak lagi terjadi tiga tahun belakangan ini. Kuil suci itu menjadi lebih megah. Menjadikan hal disekelilingnya terlihat lebih kecil. Kami merayakan Hari Raya terpisah. Saya dan adik masing-masing bergantian menemani Bapak yang bersikukuh tetap mudik atau Bunda yang ingin tetap di Jakarta.

S embilan hari menuju Hari Raya, saya dan adik kembali terbelenggu dalam pilihan yang kami tidak ingin. Terpisah. Kali ini kami tidak bisa memutuskan akan ikut siapa. Bapak berencana tetap akan mudik, sedangkan Bunda menghadiri pernikahan sepupu saya di Bengkulu. Hari Raya tahun ini mungkin saya dan adik akan tetap di Jakarta. Merayakan hari yang penuh berkah tersebut hanya berdua. Mengingat seluruh keluarga besar kami aka meninggalkan Jakarta.

T iba-tiba saya merindukan terjebak dalam macet berpuluh-puluh kilometer, ingin merasakan lagi terik matahari yang membakar kulit dan menguji iman. Saya kehilangan sesuatu yang tanpa saya sadari sangat berharga. Saya ingin lagi membaur dengan mereka yang dalam penatnya ditemani orang-orang terkasih. Menjalani kesulitan bersama-sama. Ya.. bersama-sama.

B ukan saya tidak akan bersyukur dengan apa adanya hidup saya. Sekedar berbagi. Hanya sebuah cerita sederhana yang mudah-mudahan dapat berguna bagi seluruh Sahabat.

T ernyata hal-hal yang tidak menyenangkan, belum tentu tidak berguna untuk kita.

M ensyukuri kesulitan nyata nya tidak harus sulit kan?

Kepercayaan

Pernah ditipu ?

Dikhianati ?

Dibohongi ?

Lantas, apa yang dirasa..

Kecewa ?

Sakit hati ?

Atau bahkan jadi putus asa ?

. . .

J angan main-main dengan kepercayaan seseorang. Karena hati bukan benda mati.

L ogam bisa berkarat.

B atu bisa pecah.

H ati punya lorong-lorong luas dan penuh rasa. Tidak akan berkarat, karena ada kemampuan untuk memaafkan. Tidak akan pecah, karena luas menampung.

S elalu ada detik selanjutnya bagi tiap kehidupan. Jangan menyerah pada kecewa, sakit hati atau putus asa. Karena tiap hati punya pintu belakang untuk lari dan menyelamatkan diri.

S aya kembali ke Jakarta, membawa oleh-oleh sebentuk hati berbalut kepercayaan. Dan percayalah, kalian semua bisa mendapatkannya juga. Andai tak menyerah.

Hitam

Wahai lentera yang berkedip menembus kelambu badai.

Menyusup di sela angin dan debu pekat.

Bertahankah kau menerangi gelapku… hitamku..

.: Miss you :.