Mudik Tahun Ini

S etiap lebaran, biasanya saya dan keluarga mudik ke kampung halaman Bapak di salah satu kota di daerah Jawa Tengah. Tentunya menjadi bagian dari berjuta-juta orang yang rela meluangkan waktu, energi dan materi demi menjaga tradisi yang telah terwarisi selama turun-menurun. Berangkat tiga atau empat hari sebelum Hari Raya Iedul Fitri, kami menghabiskan berpuluh-puluh jam dalam kendaraan, melakukan aktivitas harian dalam keterbatasan. Sahur dadakan dan menunda berbuka, menikmati perjalanan dengan terik matahari dan macet sepanjang berpuluh-puluh kilometer, menahan buang air, mencari mesjid yang nyaman untuk beribadah atau pom-bensin untuk sekedar membersihkan diri alakadarnya sambil beristirahat sejenak.

M engambil rute yang dianggap paling aman dan cepat ternyata tidak menjamin kenyamanan selama berkendara. Tidak jarang kami terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan, misalnya melalui jalan alternatif yang ternyata malah menyulitkan karena kondisi jalan-nya yang biasanya sempit, rusak atau berputar-putar tidak jelas tanpa petunjuk.

B erpuasa dalam perjalanan juga bukan satu pilihan yang menyenangkan, selain waktu terasa berjalan lebih lambat karena tidak banyak hal yang bisa dilakukan dalam kendaraan, kondisi iklim negara yg tropis ini juga menyumbang perasaan keberatan untuk berlama-lama berada di jalan. Belum lagi berpuluh bahkan ratusan restoran dengan tanpa bersalah me-mejeng menu andalannya. Atau penjual makanan pinggiran yang secara langsung menjajakan dagangannya.

K amipun harus rela berdesak-desakan dalam kendaraan, berbagi ruang dengan saudara atau kenalan orangtua yang kebetulan mudik searah dengan perjalanan kami, beserta barang-barang bawaan yang selalu saja terasa berlebih.

S aya selalu saja keberatan tiap tahunnya. Selalu enggan ber-packing kebutuhan mudik dan makin malas sampai hari keberangkatan tiba.

B apak sang kepala koordinator perjalanan mudik, selalu menyemangati kami. Tidak putusnya menertawakan keadaan kami dalam perjalanan mudik, sekedar menyulut letup letup semangat mudik.

“Nduk.. bule pasti pasti pada heran kalo liat kita di TV, melihat kita mengantri dan bersusah payah di jalan serentak untuk pulang kampung. Di luar negeri sana ndak ada tradisi mudik lho..”

“Nduk.. lihat itu yang mudik diatas mobil pickup, kasihan ya. Panas-panas, bertumpuk-tumpuk dengan barang dan penumpang lain. Kita ndak boleh kalah lho Nduk”

B iasanya saya tidak banyak berkomentar. Selain senyum kecut karena kelelahan atau sekedar bosan. Sesekali menimpali sekedarnya. Bunda pun tidak mau kalah, dengan selalu memenuhi kebutuhan makanan dan cemilan selama perjalanan dan melengkapi kebutuhan berlebaran lain.

S elain itu, hal yang paling tidak saya nikmati dalam perjalanan adalah saat Bapak dan Bunda berselisih tentang banyak hal, bahkan hal-hal sepele. Seringnya berkepanjangan dan membuat suasana menjadi tegang. Terasa seperti membawa granat dalam saku celana.

D ibalik itu semua, kebersamaan selalu menjadi bagian dalam perjalanan. Kami makan bersama, beribadah dan beristirahat bersama, bahkan buang air kecil bersama. Hal yang amat sangat jarang saya alami dalam keseharian. Biasanya kami terbenam dalam kesibukan masing-masing, setia pada jarak dan bangunan yang kami bangun diantara hati kami. Menghormati ketidak-harmonisan Bapak dan Bunda, menjadikannya kuil suci yang tidak berani kami sentuh.

T api semua hal itu tidak lagi terjadi tiga tahun belakangan ini. Kuil suci itu menjadi lebih megah. Menjadikan hal disekelilingnya terlihat lebih kecil. Kami merayakan Hari Raya terpisah. Saya dan adik masing-masing bergantian menemani Bapak yang bersikukuh tetap mudik atau Bunda yang ingin tetap di Jakarta.

S embilan hari menuju Hari Raya, saya dan adik kembali terbelenggu dalam pilihan yang kami tidak ingin. Terpisah. Kali ini kami tidak bisa memutuskan akan ikut siapa. Bapak berencana tetap akan mudik, sedangkan Bunda menghadiri pernikahan sepupu saya di Bengkulu. Hari Raya tahun ini mungkin saya dan adik akan tetap di Jakarta. Merayakan hari yang penuh berkah tersebut hanya berdua. Mengingat seluruh keluarga besar kami aka meninggalkan Jakarta.

T iba-tiba saya merindukan terjebak dalam macet berpuluh-puluh kilometer, ingin merasakan lagi terik matahari yang membakar kulit dan menguji iman. Saya kehilangan sesuatu yang tanpa saya sadari sangat berharga. Saya ingin lagi membaur dengan mereka yang dalam penatnya ditemani orang-orang terkasih. Menjalani kesulitan bersama-sama. Ya.. bersama-sama.

B ukan saya tidak akan bersyukur dengan apa adanya hidup saya. Sekedar berbagi. Hanya sebuah cerita sederhana yang mudah-mudahan dapat berguna bagi seluruh Sahabat.

T ernyata hal-hal yang tidak menyenangkan, belum tentu tidak berguna untuk kita.

M ensyukuri kesulitan nyata nya tidak harus sulit kan?

Iklan

6 thoughts on “Mudik Tahun Ini

  1. samaa mbak, tanpa mudik lebaran kurang seru…mending gak makan ketupat opor deh daripada gak mudik 😛


    @eskopidantipi
    Alhamdulillah kita semua bisa kembali ke Jakarta dengan selamat .. *elus-elus dada kucingkecil*

  2. mudik ke rumah mertuwa sahaja, belajar masak xixixixix


    @paKDhe
    Usul yang bagus.. tapi mertuwa yang man yah? *sombong* hihihih 😀

  3. Brarti ndak ke Klaten ya ai? sama nih.. jd kangen jalan2 di yk bareng ai hueheuheu


    @Ifa
    Hayuuuuuukk .. Kapan kita janjian lagi jalan-jalan di Yk oks, tapi Ifa yang traktir kan? *matre* hihihih

  4. waaa.. telat ngucapin selamat..
    ya selamat shaum..
    ya selamat mudik..
    ya selamat lebaran..

    pokok’e selamat dah!

    @Om Oyi
    Makasiy Om Oyi dan Tante, semoga berkah untuk kita semua 😉 Aamiin ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s