Eh..

Kemarin saat dapat giliran untuk jaga di poli ANAK, ada salah seorang bapak yang membawa dua map status tebal. Dengan logat yang tidak biasa terdengar di RSUD di daerah Jawa Barat, dan dengan intonasi yang rendah, bahkan terdengar seperti bergumam, sambil menyodorkan kedua map tersebut. Awalnya saya tidak mengerti apa yang bapak itu ingin, karena biasanya bila seorang dewasa menyodorkan map status perjalanan penyakit pasti disertai dengan seorang anak yang ingin berobat atau sekedar kontrol penyakit yang sedang dideritanya. Tatapannya kosong, tanpa semangat.

Saya : “Anaknya mana pak?”

Bapak: “.. Ini, itu .. (tergagap) anaknya masih di sekolah, sudah biasa tidak ikut”

Saya : “Kalau mau berobat, anaknya harus dibawa pak..”

Bapak: “Sudah biasa..”

Saya : “Tapi tetap harus dibawa pak, bagaimana dokter mau memeriksa kalau anaknya tidak ikut?”

Bapak: “Anaknya masih sekolah, sudah biasa tidak ikut..”

Awalnya saya agak jengkel. Tapi kemudian agak curiga karena melihat penampilan sang bapak yang (maaf) agak kumuh. Dengan berbaju koko warna krem lusuh. Tas cangklong kain usang. Bersendal plastik.
Wajah pucat. Kelelahan. Seperti orang yang baru saja selesai bekerja berat.

Akhirnya saya menyerahkan dua map itu pada perawat yang bertugas disana. Disitu saya baru tau, ternyata bapak tersebut bermaksud meminta surat pengantar dari RS untuk kontrol rutin kedua anaknya yang menderita Thallasemia ke salah satu RS di Jakarta. Seperti tersengat listrik, kaget.. haru.. sedih. Saya kembali melihat wajah bapak itu. Kosong.

Sejenak saya tatap dia. Kira – kira, bagaimana perasaannya sekarang. Perasaan memiliki dua orang anak, putra dan putri yang mengidap penyakit kronis dan mematikan. Perasaan setiap bulan, selama 12 tahun terakhir, harus pulang pergi Jakarta – Karawang untuk mengantar kedua anaknya kontrol dan untuk mendapatkan penanganan medis. Perasaan mengetahui bahwa sewaktu – waktu, dia dapat kehilangan putra atau putri atau keduanya untuk selamanya. Belum lagi masalah jasmani dan materi yang saya yakin, amat terkuras untuk hal tersebut.

Tanpa panjang lebar.. bukankah kita amat beruntung memiliki hidup yang kita punya sekarang. Dengan segala kekurangan. Dengan segala ketidakmampuan. Dengan semua ketidakpuasan.

Mengutip dari salah seorang sahabat.

“Ikhlas adalah rumah bagi sabar dan syukur”

Iklan

3 thoughts on “Eh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s